Teknologi itu memudahkan

Genkz, sudah beberapa bulan ini susah banget buat sign in ke akun wordpress saya. Padahal pasword sudah diganti dan pc sudah dibuat untuk ‘mengingat’ agar memudahkan sign in di blog. Jadilah saya males banget untuk nambah lagi tulisan saya. *alesan alesan alesan*😀

And, here is it. Supaya blog ini gak jadi rumah kosong tak bertuan kayak ditinggal empunya berhijrah ke negeri antah berantah dan tidak kembali untuk waktu yang lama, saya nyoba install aplikasi d android. *kenapa ga kemaren2 coba..hmm.

Maka, benar kalau teknologi itu memudahkan, bijaklah menggunakannya.

Ps : Jadi ngerasa post kali ini benar2 seperti menggugurkan kewajiban dan kemampuan menulis saya sudah mengalami degradasi parah..heuheu (hastag #ngelesbanget)

Dalam Doaku

Dalam doaku shubuh ini kau menjelma langit yang semalam tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu..

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

(1989 – SDD)

MELIPAT JARAK

Jarak antara kota kelahiran

dan tempatnya tinggal sekarang

dilipatnya dalam satu sudut

yang senantiasa berubah posisi

dalam benaknya

 

jarak itu pun melengkung

seperti tanda tanya

 

buru-memburu dengan jaraknya (SDD)

Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya – W. S. Rendra

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.

Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

Waktu

“Waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya menggunakan untuk memotong, ia akan memotongmu (menggilasmu)”(H.R. Muslim)

Menghitung mundur pergantian tahun 2015, jika harus berkilas balik jujur saya punya banyak sekali permasalahan dengan waktu. Sepertinya waktu ibarat musuhku, yang terus memusuhiku dan tak henti memburuku akibat kelalaianku.

Sebagian orang mungkin  berpendapat  bahwa masa muda adalah masa bersantai dan berfoya-foya, menikmati semua kenikmatan dunia, lalu masa tua adalah masa bertaubat, berhenti dari semua hal yang buruk lalu berjalan tertatih menuju perbaikan? Sungguh begitu salah pemikiran seperti itu, sebab umur manusia tak ada yang tahu kapan akan berhenti, ia kalau kita sempat bertaubat, kalau tidak? Bukankah lebih tenang hidup kita jika telah menabung kebaikan sejak dini, hingga kapanpun Allah memangggil kita, kita siap dengan bekal yang telah kita persiapkan jauh-jauh hari.

An Nakho’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”Dalam hal ini orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, mereka tidak akan berhenti untuk beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya. Subhanallah, Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah pada hambaNya. Ia begitu mengerti apa yang terdetik di dalam hati, lalu jika demikian masihkah kita enggan melakukan kebaikan dari sekarang? Masihkah kita menunda-nunda amal kebajikan?

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

Ibu Saya

Ibu saya…

Walaupun umur saya sudah seperempat abad lebih, ia masih memilihkan baju untuk saya kenakan di hari pertama bekerja..

Ibu saya…

Orang yang selalu percaya akan mimpi-mimpi dan rencana saya walaupun terkadang tidak relevan dan mengarah kekhayalan (?)

Ibu saya…

Satu-satunya orang di dunia ini tempat saya mengutarakan kelelahan-kelehan saya, bahkan dengan saudara-saudara perempuan maupun bapak pun tak pernah terucap sedikitpun

Ibu saya…

Satu-satunya pemilik tangan ajaib yang dapat menyembuhkan sakit saya dalam tempo yang sangat  cepat. Dimana apabila saya bertahan sendiri, maka waktu sembuh bisa ditempuh berminggu-minggu. Luar biasa kan? Ah, mungkin karena saya anaknya

Ibu saya…

Belum banyak yang bisa saya berikan padanya. Sekalipun bumi dan seisinya ditukar dengan kasihnya selama ini, belum cukuplah membayarkannya..

Ibu saya…

Semoga Allah selalu memberkahi dan menjaganya. Agar ia bisa melihat anaknya bisa bertransformasi agar bisa seperti dia..

Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira“. Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah kami, ampunilah kedua orang tua kami. Kasih sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka telah menyayangi kami waktu masih kecil.

#OneMonthOneNote

Satu bulan lagi, genap sudah website ini tidak saya isi tulisan apapun..he *jadimalu. Selain karena sudah punya banyak social media , sekarang log in di wordpress tidak semudah diawal. Jujur, selama satu tahun ini saya sudah mengganti pasword beberapa kali. Dan terakhir, saya memutuskan agar laptop saya ‘tetap mengingat’ pasword saya agar tak perlu kesulitan lagi untuk mengakses wordpress lagi.he. Satu tahun ? Bukan berarti saya berhenti menulis, hanya tulisan-tulisan saya bermigrasi ke akun google+ saya *ngeles.com. Kapan-kapan silahkan mampir ke akun google+ saya *promosi di https://plus.google.com/u/0/105978062289423769571/posts

Menulis adalah kebiasan yang baik, dimana seseorang dapat belajar mengejawantahkan apa yang dipikirannya. Memunculkan ide-idenya yang mungkin ‘numpang lalu’ di otaknya. Dengan menulis, kita dapat mengevaluasi diri apa sebenarnya potensi yang kita miliki dan membantu mengorganisir pikiran kita dan menempatkannya dalam suatu bentuk tersendiri. Bahkan salah seorang Sahabat Rasulullah berpesan “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya“. Apabila ilmu itu hewan ternak, maka ikatlah ia agar tak lari meninggalkan kita.🙂

Maka menulislah, tuliskan apapun yang ingin kau ceritakan. Bismillah, coba lagi mengisi kekosongan blog ini. Satu bulan, satu catatan. Dan bulan ini saya sudah memenuhinya ^.^v

CENDEKIA

Kids and Junior Science Center

Kisah Seribu Satu Masa

kejayaan dimulai dari "bacalah!"

Fathul Wahid

Just another humble person

Learning Static and Dynamics

Just another WordPress.com site

nailahajar_side's Blog

You'll never know what happens tomorrow if you give up today..

I Love My Life

enjoy emak-emak world!

@hafidz_ary

Sederhana saja: anti JIL plus anti paulus

from nagari to anywhere

Just a short note from my short journey

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, lecturer and writer

Angin

To run where the brave dare not to go

Cioccolato Quirky's Blog

Feel and taste the beat

berbagi ilmu berbagi inspirasi

merubah budaya lisan menjadi tulisan

Lazuardi Home

Learn more about life like a butterfly

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.