”Dan kejahatan malam apabila gelap gulita.”

”Dan kejahatan malam apabila gelap gulita.” (QS. Al Falaq [113]: 3)

 

Allah telah menetapkan, maka siapa yang bisa mengubahnya?

Allah telah mengatakan, malam itu identik dengan kejahatan, maka siapa yang berani mengingkarinya?

Malam. Aj Jalla berkali-kali mengungkapkan bahwa ia adalah Ay Yaghsya, yang menutupi (cahaya siang) atau sang gelap gulita. Ia penuh misteri, baik keindahan maupun keburukan.  Ia tentang keindahan akan langit yang memijar, berbaris bintang dalam gugusan, dikomandani oleh Al Qamar. Atau ialah keburukan atas makhluk-Nya, kekhilafan jiwa-jiwa yang tak tenang, beralaskan janji-janji semu syaithan akan kesenangan Al Ardh.

Muslimah, dari segala jenis dan karakteristiknya, terkadang masih dalam keraguan atas syari’at berada di luar rumah. Utamanya tatkala mentari telah tergelincir dari cakrawala. Ketika adzan maghrib telah bersahutan, ketika lampu jalan dinyalakan, atau ketika angkot SSC mulai dilarang masuk tubagus. #jangantegangdonghehe

Sebenarnya dalam nash baik Al-Quran maupun As-Sunnah An-Nabawiyah, tidak disebutkan adanya batasan boleh keluar siang dan tidak boleh malam atau boleh dilakukan oleh aktivis muslimah atau nonaktivis. So, secara general, tulisan ini tak hanya ditujukan kepada saudari-saudariku para aktivis, namun kepada para muslimah semuanya.

Sayangnya, hari ini banyak muslimah yang menganggap pulang malam (selepas maghrib) adalah hal biasa. Pulang sendirian di malam hari merupakan hal lumrah. “Gue berani kok pulang sendiri,” kilah si muslimah. But girls, please, INI BUKAN SOAL BERANI ATAU TIDAK. Kalaupun aku harus malam-malam sendirian berjalan kaki dari Bandung ke Sukabumi, insya Allah aku berani. Ya, sekali lagi aku tegaskan, insya Allah aku berani. NAMUN POINNYA ADALAH APAKAH YANG AKAN TERJADI PADAKU SELAMA DI PERJALANAN? Dari mana aku tahu bahwa aku akan selamat dan utuh sampai tujuan? Bagaimana jika terjadi kejahatan? Bukankah Allah telah mengabarkan tentang kejahatan malam? Na’udzubillaah.

Dan salah kaprah yang terlanjur menjadi kaprah ini terus merebak di mana-mana, pelanggaran syari’at berjama’ah pun tak jarang terjadi. Terlebih yang dilakukan para aktivis muslimah kampus: himpunan, unit, kabinet/BEM, dan organisasi lainnya. Dengan berbagai alasan tidak syar’i, dengan berbagai pembenaran yang dibenar-benarkan.

Aku bukan muslimah suci yang tak pernah sekalipun keluar malam. Justru aku menulis ini karena aku pernah melakukannya. Lantas aku mempelajarinya, dan kemudian mengaplikasikan serta mem-bandingkan diriku saat ini dan sebelumnya. Bahkan aku tahu bagaimana rasanya berjalan di jalan sempit ataupun lebar yang gelap. Sesekali kendaraan berlalu menyapukan angin liar yang tak henti berbisik, “Berjalanlah lebih cepat, atau…”

Jujurlah pada hatimu saudariku, mana yang lebih kau inginkan: Keamanan dan kenyamanan di dalam rumahmukah atau kepentingan-kepentingan yang dipenting-pentingkan hingga dengan kerennya kamu keluar di malam hari?

Tulisan ini pun tak serta merta menunjukkan pelarangan ataupun pernyataan ketidak-setujuanku secara mutlak atas kebiasaan pulang malam. Benar, ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan. Dalam menyikapi permasalahan ini, para ulama salafusshalih telah memberikan batasan-batasan yang sangat tegas, bahwa tidak halal bagi muslimah berpergian tanpa mahram kecuali dalam tiga hal, di antaranya adalah:

1.       Menyelamatkan akidahnya,

2.       Melakukan haji (dengan sarat ada keamanan bagi si perempuan),

3.       Beberapa hal yang sifatnya darurat (misal: sedang sakit dan harus segera ke rumah sakit).

Beberapa ulama Mesir juga memperbolehkan muslimah bepergian tanpa mahram untuk menuntut ilmu, selagi negara yang dikediaminya adalah negara yang bisa menjamin keamanan muslimah tersebut. Wallaahu a’lam.

Cerita lain ialah seorang muslimah (sebut saja Aku) lagi-lagi membela diri dengan alasan, “Saya cukup dibutuhkan dalam kepentingan malam hari itu. Saya pun menganggap keberadaan saya penting. Di lain pihak, kepentingan itu adalah amanah saya yang menyangkut dengan laki-laki dan perempuan lainnya, yang saya tidak bisa dengan seenaknya membatalkan atau meminta perubahan jadwal.” Bagaimana dengan kasus ini?

Berkenaan dengan keadaan-keadaan tertentu, saya sepakat dengan keputusan sebuah syura atas sebuah acara syi’ar yang –alhamdulillaah– akhirnya batal dilaksanakan pada malam hari dengan dua pertimbangan terkait keberadaan para muslimah di dalamnya. Dua alasan tersebut antara lain:

1.       Terjamin keamanannya,

2.       Terjaga dari fitnah khalwat (bercampurnya laki-laki dan perempuan),

Tak bisa dipungkiri, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan secara otomatis sering menempatkan wanita, khususnya muslimah pada posisiposisi penting yang keberadaannya tak bisa digantikan. Ataupun jika digantikan, usaha tersebut tidak akan maksimal. Sehingga adakalanya, harus “melonggarkan” syari’at demi ‘kemaslahatan’ lain.

Dalam beberapa hadist:

“Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengadakan safar sehari semalam tidak bersama mahromnya.” [HR Bukhari: 1088; Muslim: 1339]

 

“Jangan seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahromnya, juga jangan safar dengan wanita kecuali bersama mahromnya, maka ada seorang lelaki berdiri lalu berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri saya pergi haji padahal saya ikut dalam sebuah peperangan. Maka Rasulullah menjawab: “Berangkatlah untuk berhaji dengan istrimu!” [HR Bukhari: 3006, 523; Muslim 1341]

 

“Janganlah seorang wanita safar sejauh tiga hari (perjalanan) melainkan bersama dengan mahramnya”. [HR. Imam Bukhari: 1087; Muslim: 970; dan Ahmad II/13, 19, 142-143, 182; dan Abu Dawud]

Dan masih banyak lagi hadits serupa…

Hadits-hadits di atas lebih menekankan pada ada-tidaknya mahram. Ulama mazhab Syafi’i dn Maliki memperbolehkan wanita pergi haji tanpa mahran atau suami asal ia berangkat dengan rombongan wanita yang dapat dipercaya. Dalam kasus safar pun insya Allah masih sejalan dengan kondisi berhaji. Penekanannya bukan pada faktor keamanan, tapi memang Allah mensyari’atkan untuk ada mahram yang mendampingi wanita tersebut. Keamanan dalam ini pasti menjadi hal “akibat” bukan “sebab”. Karena dengan tidak adanya mahram, akibatnya wanita dapat terjebak oleh fitnah atau “tangan-tangan jahat manusia”. Dan dengan adanya mahram, insya Allah keamanan muslimah dapat lebih terjaga. Wallahu a’lam.

Sejenak menilik pada fiqih prioritas oleh Dr. Yusuf Qardhawy, tentang menolak kemungkaran (tidak pulang malam) lebih diutamakan dari pada mendatangkan manfaat (manfaat keberadaan muslimah di luar rumah). Sungguh benar jika untuk membersihkan suatu noda atau bau pada pakaian adalah lebih tepat dengan mencucinya (menghilangkan keburukan) dibanding memberinya parfum (mendatangkan manfaat).

Namun bagaimana jika kemungkaran dapat diatasi dengan menjaga keselamatan sekaligus bahaya fitnah khalwat? Apakah ia tetap tidak boleh keluar malam? OK, mungkin kamu lebih tahu keadaan ‘TKP’ pada saat itu. Bisa jadi kamu beranggapan pulang malam adalah pilihan terbaik. Silakan. No problem. Namun jawaban saya, insya Allah SEBISA MUNGKIN TIDAK. Mengapa? Karena secara ilmiah, kedua alasan di atas merupakan variabel tidak terikat yang terang saja di luar kuasamu apabila seseorang ingin menyerangmu dan/atau memfitnahmu. Terlebih, zaman sekarang, fitnah tak jarang sulit diredam. Bener gak? Mmm, bisa jadi karena kamu belum pernah mengalaminya, makanya bilang gak.

Sedikit lebih mendasar. Bukankah pakaian yang kamu kenakan, merupakan identitas sekaligus ajakan kepada kebaikan, Saudariku? Bukankah da’wah itu tentang menegakkan syari’at Islam? Dan ketika kamu melanggar syari’at, maka tak hanya kamu yang divonis salah, namun kamu beserta apa yang kamu kenakan. Maka, generalisasi atas muslimah berjilbab (khususnya) akan menjadi kambing hitam akibat apa yang kamu lakukan. Tegakah? Mengapa tak belajar menjadi bijaksana dengan menerima syari’at islam secara keseluruhan, tidak parsial? Tentu saja SANGAT BUKAN dengan menanggalkan pakaian kemuliaan itu (lantaran masih ingin keluar malam tetapi tidak tega dengan jilbab), karena dengan begitu malah akan memperparah keadaan dan menjauhkanmu dari Dzat Yang Maha Pedih Siksa-Nya.

Dan lebih mengakar lagi, jika kamu khawatir akan merusak atau menurunkan kinerja tim dengan ketidakberadaanmu malam itu, mari kita tengok kembali pada firman Allah surah Muhammad ayat 7,“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”Bukankah tidak keluar malam, which is menaati syari’at, merupakan kegiatan menolong agama Allah? Jika kamu sepakat, maka masih khawatirkah kamu atas kepentingan yang kamu pentingpentingkan tadi untuk kamu tinggalkan? Atau kamu tidak percaya bahwa pertolongan Allah itu dekat?

Semoga Allah membuka hati-hati kita untuk dapat menegakkan syari’at dan izzah Islam setegak-tegak dan setinggi-tingginya.

Semoga Allah melapangkan dada ini lantaran hawa nafsu yang sering beradu dengan nurani tentang benar dan salah.

Semoga Allah mengampuni segala khilaf yang telah kita lakukan.

Dan semoga Allah menjadikan kita makhluk-makhluk pembaharu yang mengangkat panji-panji Islam setinggi-tingginya!

Share dari note Ratna Nataliani : Wal Layli idzaa Yaghsyaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

CENDEKIA

Kids and Junior Science Center

Kisah Seribu Satu Masa

kejayaan dimulai dari "bacalah!"

Fathul Wahid

Just another humble person

Learning Static and Dynamics

Just another WordPress.com site

nailahajar_side's Blog

You'll never know what happens tomorrow if you give up today..

I Love My Life

enjoy emak-emak world!

@hafidz_ary

Sederhana saja: anti JIL plus anti paulus

from nagari to anywhere

Just a short note from my short journey

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, lecturer and writer

Angin

To run where the brave dare not to go

Cioccolato Quirky's Blog

Feel and taste the beat

berbagi ilmu berbagi inspirasi

merubah budaya lisan menjadi tulisan

Lazuardi Home

Learn more about life like a butterfly

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: