“RESUME BUKU MENUJU JAMA’ATUL MUSLIMIN” BAGIAN KEEMPAT BAB III (JAMA’AH-JAMA’AH TERPENTING YANG AKTIF DI MEDAN DAKWAH ISLAM)

Setelah Khilafah Utsmaniyah jatuh pada 1424, tokoh-tokoh islam dan para ulama berjuang mengembalikan khilafah Islamiyah kedalam kehidupan kaum muslimin. Perjuangan menegakkan kembali sistem khilafah tersebut dilakukan dalam dua bentuk, yaitu perjuangan individual dan kolektif. Dalam perjuangan individual, ulama menyeru terbentuknya khilafah islamiyah melalui khotbah-khotbah, makalah-makalah, artikel dan surat kabar yang biasanya seruan tersebut tidak memiliki jama’ah atau organisasi. Sementara perjuangan kolektif, ulama memimpin kaum muslimin dengan tujuan mengembalikan Khalifah Islamiyah. Tujuan dari perjuangan kolektif terbagi kedalam beberapa bagian :

  1. Perjuangan kolekftif yang tujuannya langsung yang menjadikan dakwahnya untuk menegakkan khalifah islamiyah serta merancang strategi untuk meraih tujuan tersebut. Contoh : Hizbut tahrir di Suriah dan Yordania, Da’wah Ikhwanul Muslimin di Mesir, Suria, Sudan, dll, Partai Masyumi di Indonesia, Jama’at Islam di India dan Pakistan, Fidaiyyan Islam di Iran
  2. Perjuangan kolektif yang tujuan langsungnya da’wah sosial, budaya, dan sufi. Contoh : Anshar as-Sunnah di Mesir, Jam’iyyah Syar’iyyah di Mesir, Jama’ah Tabligh, Al-Mahdiyah di Sudan, serta As-Sanusiyyah di Maroko dan Hijaz.

Menuju Jama'atul Muslimin mini

Jama’ah Anshar as-Sunnah al-Muhammadiyah

Didirikan pada 1345H/1926M di Kairo, Kampung Abidin dengan nama Jama’ah Anshar as-Sunnah al-Muhammadiyah oleh Syaikh Muhammad Hamid al-Faqi. Secara ringkas, tujuan JASM dalam dokumen internal oleh pendirinya yaitu : Mengajak manusia kepada tauhid murni, menerapkan hukum yang bersumber pada al-kitab dan as-sunnah, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang berbuat jahat, mencintai Rasulullah SAW secara benar, menghindari bid’ah, memerangi kufarat dan aqidah sesat, dll. Upaya jama’ah dalam meraih tujuannya yaitu seperti undangan untuk menghadiri muktamar, memberantas buta huruf dengan cara membuka kelas-kelas belajar, menyiapkan sekolah-sekolah tingkat SLTP dan SMU, membantu pelajar melanjutkan studi, dll. Lapangan amal/pengabdian JASM meliputi bidang agama, budaya dan sosial. Sumber-sumber finansial jama’ah ini berasal dari iuran resmi cabang, donasi, hibah, dari para dermawan kepada jama’ah, hasil-hasil ekspor milik jama’ah, dll. Upaya-upaya terpenting yang dilakukan setelah jama’ah berdiri di Kairo, dakwahnya tersebar ke seluruh penjuru mesir dan memiliki kurang lebih 50 cabang termasuk cabang di negeri-negeri islam lain, membangun kurang lebih 300 mesjid di seluruh wilayah mesir, mendirikan sejumlah sekolah tahfidzul qur’an, menggelar berbagai muktamar Islam dalam kurun waktu yang berbeda, memberikan banyak bantuan kepada keluarga muslim, membantu para pelajar melanjutkan pelajaran resmi di sekolah formal, dan membantu jama’ah JASM ketika melaksankan ibadah haji.

Penilaian atas Jama’ah Anshar as-Sunnah al-Muhammadiyah dari sisi tujuan dan sarana sangat luhur dan mulia. Namun sarana untuk mencapai tujuan dan mewujudkan prinsip tersebut dinilai kurang dan terbatas. Seluruh sarana Jama’ah anshar as-Sunnah al-Muhammadiyah untuk meraih tujuan seperti yang telah dijelaskan hanya terbatas pada satu fase dari fase dakwah Rasulullah. Fase tersebut yaitu menyebarkan da’wah dengan khotbah, ceramah, menawarkan dakwah kepada suku-suku, mendirikan walimah, serta sarana penyebaran dakwah lainnya. Sedangkan fase da’wah Rasulullah kepada islam sangat banyak. Fase-fase da’wah Rasulullah tersebut tidak dilakukan oleh JASM.

Dr. Shadiq Amin dalam bukunya Da’awah Islamiyah memberikan masukan-masukan terkait masalah yang datang kepada JASM, materi kritiknya adalah :

  1. JASM tidak memiliki sistem dalam pendidikan, pembinaan, dan strategi.
  2. Tidak memiliki tujuan berjangka tertentu.
  3. Tidak memiliki pengorganisasian yang mengikat satu anggota dengan anggota lainnya.
  4. JASM terbatas pada sekelompok kecil orang-orang yang komit pada agama
  5. Tenaga JASM habis terkuras dalam perdebatan sengit disekitar masalah furu’ agama.
  6. Pandangan mereka bahwa sistem & organisasi, bai’at pada imam/amir merupakan bid’ah modern yang tidak berdasar.

Hizbut Tahrir (HT)

            Hizbut Tahrir (HT) didirikan di Yordania oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, alumnus al-Azhar. Dia membuka cabang di Lebanon pada 19 Syawal 1378 H/29 April 1959 M. Tujuan Hizbut Tahrir yaitu memulai kehidupan Islami dengan mendirikan negara Islam di negara-negara Arab terlebih dahulu sebagai starting point, mengemban dakwah islamiyah dengan menyampaikan dakwah islam kepada umat non-Islam via negara Islam, rekonstruksi masyarakat berdasarkan asas-asas baru dan sesuai dengan undang-undang (dustur) HT. Dalam hal ini, HT hanya membatasi pencapaian tujuannya hanya di negeri-negeri Arab saja. Sarana HT dalam meraih tujuannya adalah dengan memegang kembali pemerintahan lewat umat. Secara terperinci sarana-sarana HT yang bisa mengantarkan HT pada tujuan jama’ahnya meliputi penjelasan pendapatnya tentang semua hal yang berkaitan dengan negara dan umat secara resmi melalui Dewan Perwakilan Rakyat. Menyebarkan pemikiran-pemikiran lewat buku-buku, brosur, majalah, surat kabar, pidato, diskusi, dan tulisan di media massa kepada umat, menyelenggarakan pertemuan umum dan khusus untuk memproklamirkan prinsip dan ajaran HT, menjalin hubungan baik dengan penguasa, dan lain sebagainya. HT menjelaskan bahwa saranya menuju kekuasaan adalah jihad.

Prinsip dan Pemikiran HT dalam aspek aqidah, HT bersandar pada apa yang dapat dijangkau akal dan diterima pikiran melalui sumber-sumber yang menurut akal sangat kuat, seperti Al-Qur’an dan hadits mutawatir. Pada aspek pengamalan hukum islam, HT tidak memandang pelaksanaan amal apapun, mulai dari dakwah sampai shalat atau puasa dan hukum-hukum islam lainnya. Sebab hukum-hukum ini dalam pandangannya termasuk tugas negara Islam setelah tegak. Sementara pada aspek moral dan pendidikan, HT tidak memberikan perhatian utama pada akhlak atau membuka lahan bagi peningkatan taraf pendidikan dan keilmuan umat. HT adalah partai politik yang bergelut dengan politik, berjuang mendidik umat dengan tsaqafah islamiyah yang menonjolkan aspek politik didalamnya. Dalam aspek fiqih, HT mempunyai sebuah kitab ensiklopedia yang dicetak dalam tiga jilid. Dr. Shadiq Amin menyampaikan beberapa catatan seputar persoalan yang dikemukakan HT dalam aspek fiqh seperti, kewajiban shalat gugur bagi muslim yang berada diluar angkasa, di kutub utara dan selatan, dan lain sebagainya.

Pada aspek politik, HT memiliki banyak visi tentang pelbagai persoalan politik kotemporer diantaranya multi partai dalam Negara Islam untuk mengontrol pemerintahan, Tugas pemerintahan dalam Islam yaitu melaksanakan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya melalui kitab dan sunnah dan pemerintah tidak berhak merancang atau menetapkan undang-undang sendiri sebab agama ini telah sempurna dari Allah SWT. Majelis syura adalah majelis yang menghimpun dalam keanggotaannya, tokoh-tokoh umat yang kredibel dan dianggap sebagai puncak umat. Orang kafir tidak berhak memasukinya sebab ia tidak dianggap sebagai bagian dari umat. Majelis syura adalah bagian dari pilar pemerintah, didalamnya dibahas putusan-putusan terpenting yang berkaitan dengan pemerintahan islam. Tugas pria adalah menjadi pemimpin karena pria memilki karakter dominan adalah konsentrasi, ketajaman akal, dan kedalam berpikir sementara wanita tidak memiliki syarat tersebut. Sedangkan wanita adalah sebagai pengasuh tunas bangsa dalam rumah tangga dan tidak membenarkan jika keluar rumah untuk konsentrasi bekerja karena dapat berakibat sendi-sendi keluarga Islam akan roboh.

Penilaian atas HT pada sisi Tujuan dan Sarana, jama’ah ini hanya membatasi diri pada sebagian tujuan dan arahan Islam, dengan mengabaikan tujuan atau arahan lainnya. HT membalik urutan sarana Rasulullah untuk meraih pemerintahan karena sarana langsung yang dipergunakan HT dalam mencapai tujuannya adalah jihad atau mengambil pemerintahan lewat umat secara politis. Dari segi pemikiran, HT tidak mempunyai fase pembentukan (takwin), yaitu fase dimana Rasulullah SAW tinggal di Mekkah selama 13 tahun kemudian menghabiskan sisa usianya di Madinah al-Munawwarah.

Jama’ah Tabligh

            Jama’ah Tabligh (JT) didirikan oleh Muhammad Ilyas bin Syaikh Muhammad Ismail bermahzab Hanafi, Dyupandi, al-Jisyti, al-Kandahlawi di anak benua India, kabupaten Saharapur setelah pendirinya menemukan metode Tabligh yang ditekuni dalam da’wahnya dan mendapat ilham dari mimpinya tentang tafsir firman Allah Ali Imran ayat 10 : “…Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia”. Menurutnya, makna ukhrijat adalah hendaknya kamu keluar untuk wisata dan menyampaikan dakwah kepada manusia. Pemikiran dan Ajaran Jama’ah Tabligh mengharuskan bertaklid, sebab syarat-syarat ijtihad yang dikemukakan ulama salaf sudah tidak ada lagi di kalangan ulama saat ini. Tasawuf adalah cara untuk mewujudkan hubungan dengan Allah dan memperoleh kelezatan iman. Tidak memandang perlunya nahi munkar, karena fase saat ini adalah fase mewujudkan iklim yang kondusif bagi masuknya kaum muslimin ke dalam jama’ah mereka, sedangkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan penghalang pada fase ini. Mereka melarang anggota JT memperluas ilmu dan mendalami aliran-aliran filsafat, memisahkan agama dan politik, dan memandang tidak wajib bagi seorang anggota berdakwah di negeri tempat tinggalnya namun wajib berdakwah ke negeri lain.

Secara ringkas ajaran-ajaran pokok JT dalam 6 prinsip yaitu kalimat thayyibah : La Illaha Illa Allah, Muhammadur Rasulullah, mendirikan shalat, ilmu dan dzikir, memuliakan setiap muslim, ikhlas, berjuang di jalan Allah. Sarana Jama’ah Tabligh dalam meraih tujuan yaitu dengan Nasihat dan Arahan, mereka menyisihkan waktu untuk ceramah dan memberi nasihat untuk jama’ah dan yang hadir dalam Masjid dengan penentuan waktu yang disesuaikan. Rihlah (Perjalanan) dan Siyahah (Wisata) dengan membentuk kelompok (Kafilah Tabligh) kemudian menentukan Amir (Pemimpin Kelompok) untuk kemudian berangkat menuju kesuatu daerah untuk berdiam diri di masjid / menyewa tempat lalu mengadakan pembagian tugas (bagian ceramah & pemberi nasihat, yang kedua membersihkan tempat yang didiami kafilah, bertugas keliling rumah penduduk dan meminta mendengarkan nasihat). Sumber keuangan JT bergantung pada para anggota yang menyambut da’wah, setiap orang menanggung biaya perjalanannya dan konsumsinya, karena JT tidak memiliki perangkat untuk mengatur & menata harta JT, sehingga sumbangan yang masuk bersifat tidak mengikat JT dan para donaturnya.

Sejumlah prinsip, tujuan, sasaran, ajaran, sarana, dan pemikiran JT bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga perkaranya tertolak dan amalnya rusak, contoh : Upaya Taklid yang bertentangan dengan Ittiba’, pengharaman ijtihad bertentangan dengan hukum kontemporer di masa mendatang, nahi mungkar dianggap hal yang terlarang bertentangan dengan perintah dan larangan dalam Kitab dan As-Sunnah, Adanya larangan mencari dan memperdalam ilmu filsafat, larangan untuk terjun ke dunia politik bertentangan dengan hukum dan kewajiban agama. Metode jama’ah yang menetapkan tujuan dan sarana yg parsial (setengah-setengah) dari ajaran Islam sesungguhnya telah bertindak memilah-milah (tab’idh) hukum-hukum Islam dan hal itu tertolak dalam agama, sehingga harus diperbaiki kembali metodenya sesuai dengan prinsip yang mencakup Islam dan keluasan ajarannya meskipun da’wah Islam berada pada kondisi penuh ujian dan cobaan. Oleh karena itu ketika seorang da’i memilih jama’ah, haruslah memilih jama’ah yang tidak memilah ajaran-ajaran agama secara parsial sesuai dengan apa yg dibenci / disukai penguasa, tetapi memilih jama’ah yang mengemban agama secara totalitas, menerobos segala rintangan dan kesulitan yang menghadang dan wajib memberikan kesetiaan dan dukungan pada jama’ah yang mempunyai tujuan menyeluruh mencakup seluruh tujuan agama Islam, menggunakan sarananya dengan apa yang digariskan oleh Allah untuk mencapai tujuan berkala yang dikaji secara mendalam dan sesuai dengan langkah da’wah Rasulullah SAW ketika ditetapkan untuk mengembalikan manusia kepada Allah.

Jama’ah Ikhwanul Muslimin

            Jama’ah Ikhwanul Muslimin (JIM) didirikan pada bulan Dzulqaidah 1347 H di kota Isma’iliyah. Pendirian JIM dilakukan setelah pertemuan di kediaman pendiri dan mursyid JIM yang pertama, Hasan al-Banna. Dihadiri 6 tokoh yaitu Abdurrahman Hasbullah (sopir), Ahmad Al-Khushari (tukang cukur), Zakki al-Maghribi (penjahit), Hafizh Abdul Hamid (tukang kayu), Fuad Ibrahim, Ismail Izz, mereka saling memba’iat untuk hidup bersaudara dan berjuang untuk Islam. Pendiri JIM adalah Syaikh Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman al-Banna yang lahir pada tahun 1906 di Mesir. Kehidupan Pendiri JIM, Syaikh Hasan Al Banna adalah sosok yang berkharisma dan tampak kejeniusan dalam sisi kepribadian seorang da’i, pendidik, pembaharu dan pemimpin yang mana kecintaan hidupnya terpusat pada da’wah, serta pengaruh yang begitu kuat pada sahabat dan murid-muridnya membedakan beliau dengan para pemimpin terdahulu, sehingga kesuksesan nan gemilang ada didalam pembinaan dan produktivitas. Beliaulah pembangun generasi pendidik serta pemilik ‘madrasah’ ilmiah, pemikiran dan akhlak.

Struktur Organisasi JIM terdiri dari Dewan Pendiri (Hai’ah Ta’sisiyah), Mursyid ‘Am, Maktab al Irsyad al ‘Am dikantor pusat terdiri atas 12 orang, 9 orang dari kairo sebagai wakil, sekretaris jenderal, bendahara, dan 3 orang sisanya dari daerah lain. Maktab Idari (Dewan Administrasi. Dari tiga pilar itulah kantor pusat JIM terbentuk, dan berkedudukan di ibukota negara. Kantor pusat membawahi kantor Administrasi, Wilayah, Syu’bah/Cabang (ketua Syu’bah dipilih dari Maktab al Isryad), dan Usrah (unit terkecil yang membentuk JIM, terdiri atas 5 orang yang dipimpin seorang Naqib). Tujuan JIM yang pertama adalah membangun pribadi muslim, kemudian menuntut setiap muslim agara membentuk dan membina rumah tangga muslim, membina masyarakat muslim, membebaskan Negeri dari setiap penguasa asing, Memperbaiki Pemerintahan, Mengembalikan eksistensi Internasional bagi Umat Islam, Menjadi Guru Dunia dengan menyebarkan da’wah Islam keseluruh penjuru. Sarana JIM dalam mencapai tujuannya adalah dengan Iman yang mendalam, Pembentukan yang cermat, dan Amal yang berkesinambungan. Rukun-rukun bai’at dalam jama’ah ini meliputi : Kefahaman, Ikhlas, Amal, Jihad, Pengorbanan, Ta’at, Keteguhan, Tajarrud, Persaudaraan, Percaya sepenuhnya.

Karakteristik Jama’ah Ikhwan yang membedakan JIM dari Jama’ah Islam kontemporer lain adalah :

  1. Rabbaniyah, sebab tujuannya agar terwujud kedekatan dg ALLAH SWT.
  2. Universal, karena da’wah JIM diarahkan pada seluruh Umat Manusia,
  3. Islamiah, sebab berafiliasi pada Islam sebagai karakteristik yang utama
  4. Komprehensif, mencakup seluruh aliran kontemporer untuk aspek reformasi/perbaikan,
  5. Membebaskan loyalitas dari pemerintahan dan partai politik yang tidak beraffiliasi pada Islam,
  6. Menjauhi wilayah perselisihan fiqh, karena adanya perbedaan masalah furu’ akibat perbedaan akal manusia dalam memahami Nash,
  7. Menjauhkan diri dari kooptasi para tokoh dan elit, karena mereka berpaling dari da’wah,
  8. Bertahap dalam melangkah (ada 3 fase tahapan da’wah:pengenalan, pembentukan, pelaksanaan)
  9. Mengutamakan Aspek Amaliah
  10. Sambutan Luas dari para pemuda
  11. Cepat Tersebar ke segala penjuru

Faktor Keberhasilan JIM, karena menyeru dengan seruan Allah yang paling tinggi, menyerukan fikrah Islam yang paling kuat, mempersembahkan pada manusia Syari’at yang adil yakni Al Qur’an, karena manusia butuh ketiga hal tersebut untuk kebahagiaan dan kesengsaraan manusia. Sendi-sendi Da’wah JIM dan sarananya yaitu dengan mewujudkan sendi ILMU dibutuhkan Halaqah, sendi TARBIYAH dibutuhkan Usroh Takwin, sendi JIHAD dibutuhkan Usroh‘Amali. Sendi Usrah dalam JIM meliputi Ta’aruf, Tafahum dan Takaful. Kewajiban dan Syarat Keanggotaan JIM berbeda sesuai tingkatan meliputi Nashir, Munaffid (Mujahid), dan Naqib (Na’ib & Warits), tahapan terarah tersebut menunjukkan kematangan dan kecakapan kepemimpinan dalam mengenal karakter jiwa sebagai suatu hal yang sunatullah dalam penciptaan manusia, yaitu bertahap. Usaha JIM tersebar dalam aspek sosial, dalam bidang pertanian, dalam bidang olah raga, Kepanduan (Ilmiah dan pendidikan), Tsafaqah Islamiyah (buku-buku, pers, dan kajian-kajian bimbingan), dalam bidang kewanitaan, ekonomi, dan kesehatan. JIM menghadapi beban berat dalam politik, yaitu tuduhan bahwa JIM sangat ambisius terhadap politik dan sistem pemerintahan, maka JIM menyeru bahwa Al Qur’an dan As Sunnah dalam genggaman, amal salaf yang saleh dari umat adalah teladan, jika menyeru pada Islam (hukum dan petunjuknya) disebut politik, maka inilah politik JIM.

Kesimpulan atas JIM adalah jama’ah yang memperjuangkan Islam yang sesuai tujuan, sarana, dan bertahap yang senantiasa berkembang dalam strategi amaliahnya dengan berpedoman pada Kitab dan Sunnah. Adapun KRITIK atas JIM yaitu JIM menetapkan fase konfrontasi dengan kebatilan sebelum menetapkan pilihan belahan bumi tempat berpijak, sehingga banyak tokoh yang dibunuh dan harta JIM dirampas. Terlalu percaya dan berprasangka baik pada kepemimpinan lain, padahal bisa diambil alih.

4 responses to this post.

  1. Katalog Buku-buku Referensi Pergerakan, Tarbiyah, dll: http://www.tokobukuikhwan.com

    Balas

  2. Posted by Mr H on Maret 27, 2015 at 9:27 am

    very good to infrov our knowledge about islam

    Balas

  3. domo arigato gozaimas. ane ambil semua buat tugas kampus :3 haha. ane sebutin sumbernya kok.. lagian udah deadline.. mou ikkai, hontou arigataou..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

CENDEKIA

Kids and Junior Science Center

Kisah Seribu Satu Masa

kejayaan dimulai dari "bacalah!"

Fathul Wahid

Just another humble person

Learning Static and Dynamics

Just another WordPress.com site

nailahajar_side's Blog

You'll never know what happens tomorrow if you give up today..

I Love My Life

enjoy emak-emak world!

@hafidz_ary

Sederhana saja: anti JIL plus anti paulus

from nagari to anywhere

Just a short note from my short journey

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, lecturer and writer

Angin

To run where the brave dare not to go

Cioccolato Quirky's Blog

Feel and taste the beat

berbagi ilmu berbagi inspirasi

merubah budaya lisan menjadi tulisan

Lazuardi Home

Learn more about life like a butterfly

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: